top of page

Metakognisi: Rahasia Kita Lepas dari Jeratan Doomscrolling

  • Writer: Dr. Juneman Abraham
    Dr. Juneman Abraham
  • 2 days ago
  • 12 min read

Updated: 1 day ago

Juneman Abraham - Ahli Psikoinformatika dan Psikologi Kebijakan Publik BINUS University, Anggota Academic Advisory Board ASEAN Research Network (ARN), dan Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).



Pernahkah Anda berkata pada diri sendiri, “Saya akan lihat HP 5 menit, setelah itu saya akan bekerja (atau mengobrol dengan istri, atau bermain dengan anak).” Ternyata satu, bahkan dua jam berlalu. Anda seperti terhipnosis dan menghanyut dalam linimasa (timeline) Instagram/TikTok/Youtube. 

 

Seolah juga, jari-jari Anda punya nyawanya sendiri, yang tidak dapat Anda kendalikan. Tak terasa, ratusan foto, video pendek, potongan berita telah Anda lewati.  Namun Anda tak hanya tidak mempelajari apapun, bahkan tak ingat apapun.


Jika ditanya orang terdekat Anda, Anda hanya bisa terdiam, bahkan Anda ingin melihat ke layar lagi, scrolling lagi. Bahkan Anda mulai terbawa pada situs belanja, situs pornografi, dan pinjaman daring yang sebenarnya tak Anda butuhkan.

 

Mindless scrolling atau dumb scrolling/doomscrolling. Inilah nama gejala yang kita idap. Sengaja digunakan kata “idap” di sini, karena ini memang sudah menjadi gangguan yang mempademi dewasa ini.


Secara ekstrim, dapat kita saksikan sendiri bahwa banyak rumah tangga hancur dan perusahaan tak efisien karena terjangkiti “virus scrolling ngalor-ngidul ini. Sejumlah pakar menjelaskan gejala ini sebagai perburuan oleh otak kita akan kepuasan instan dari stimulasi visual yang tak berkesudahan. Atau istilah neuropsikologinya, “perbudakan dopamin”.


Photo by Maxim Ilyahov on Unsplash

 

Kendati demikian, tulisan ini menawarkan tafsir yang jauh optimistik atas gejala ini daripada sekadar “perbudakan”. Tersesat dalam linimasa media sosial sejatinya adalah sebuah manifestasi dari upaya bawah sadar manusia untuk mencari makna (meaning-seeking).


Kita memang seperti kehilangan pegangan ketika menghanyut di layar; ini sebabnya disebut “tersesat”. Namun sebenarnya - dari perspektif yang lebih positif - kita tidak sedang hanya mencari kesenangan kosong, melainkan kita sedang menyisir sesuatu yang beresonansi atau mampu mencerminkan - memproyeksikan - menggaungkan kebutuhan terdalam, harapan, dan identitas kita.

 

Apa buktinya? Buktinya adalah momen ketika jari kita tiba-tiba berhenti. Inilah “jeda kognitif”, saat dimana kita ingin mencerna sebuah kutipan yag menyentuh hati, tips kesehatan praktis, atau analisis/penjelasan yang agak dalam tentang suatu peristiwa. Pada titik ini, pencarian makna kita menemukan “halte-halte” sasarannya.

 

Nah, apa yang bisa kita lakukan, selain menonton sesaat, lalu melewatkannya, dan kembali scrolling? Sebenarnya ada satu hal: Menekan tombol Bookmark atau simpan. Memang masih jarang terdengar bahwa bookmarking digunakan sebagai strategi oleh orang muda di Indonesia.


Alih-alih menekan tombol Bookmark, lebih banyak orang Indonesia menandai (tag) orang lain di kolom komentar. Kendati demikian, fitur bookmark di media sosial sebenarnya adalah penanda bahwa manusia masih memiliki kepedulian terhadap kualitas sebuah konten.

 

Dari sejumlah orang yang memanfaatkan bookmark, masih ada masalah masalah perilaku. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada juga gejala “penimbunan digital” (digital hoarding), yaitu konten di-bookmark karena FOMO (takut/cemas kehilangan informasi kekinian).


Akhirnya, sejumlah pengguna yang melakukan scrolling memang menyimpan (bookmarking) ribuan konten, namun hanya menggunakan sekitar 12 persen dari simpanan tersebut (Wu, 2025). Padahal, bookmarks sangat potensial menjadi alat bantu untuk bertindak di masa depan.

 

Berkembang juga ilusi bahwa “save/bookmark/menyimpan berarti memiliki”. Padahal kita belum dapat dikatakan “memiliki konten”, kalau tidak kita gunakan untuk meningkatkan kualitas hidup kita (bahasa ilmiahnya: appropriation).


Konten yang sebenarnya tidak kita miliki itu hanya akan teronggok menjadi “debu tebal digital” yang bila ditinjau lagi justru menjadi beban mental dan memicu rasa bersalah (karena banyak simpanan konten dengan segala harapan yang termuat, namun tak ada yang “berbuah jadi sesuatu yang berguna untuk hidupku”).


 


Konten “Receh” Menang

 

Kalau konten yang di-bookmark adalah konten yang “berbobot”, maka jika digunakan/diapropriasi akan menambah juga bobot hidup kita. Namun kalau konten yang disimpan saja sudah merupakan konten yang “receh”, maka sulit diharapkan untuk dialirkan menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat buat hidup kita.

 

Dari perspektif positif, sebenarnya tidak ada konten yang secara mutlak disebut “receh”. Paling jauh, kita hanya dapat menyebut dalam perbandingan relatif: ada konten yang “lebih receh” , atau - sebaliknya - “lebih berbobot” daripada yang lain.

 

Sebuah konten disebut “lebih receh” apabila dibuat dengan tujuan hanya untuk memicu senyum, tawa atau sensasi atau keterikatan (engagement) sesaat. Konten receh itu seperti kerupuk - tidak bergizi namun enak dimakan.


Penciptanya ingin audiens merasa “Eh, ini mirip banget yang terjadi padaku, lingkunganku!”, membangun keakraban lewat hal-hal sepele. Lebih pelik, konten hoaks dan disinformasi publik dapat juga menyamar dengan bungkus konten receh (menggunakan bahasa santai, judul clickbait) agar lebih mudah viral; seolah-olah hanya untuk seru-seruan, padahal memuat agenda politik manipulatif atau penipuan.

 

Mari kita bedah sejenak, mengapa ketika scrolling, kita seperti spontan memilih konten yang “lebih receh” daripada yang “lebih berbobot”. Rumus temporal difference (TD) - meminjam dari Zhang dan Seo (2001) - memiliki model matematis, sebagai berikut:

 

Vt+1 (st) = Vt(st) + α [rt+1 + Ɣ Vt(st+1) - Vt(st)]


V adalah makna atau nilai pengetahuan yang kita miliki.


r adalah reward instan, seperti kesenangan/kepuasan menemukan info baru


Ɣ (Gamma) adalah faktor pengurang/discounting yang menentukan nilai masa depan dari info tersebut.


 

Konten yang “lebih receh” adalah konten dengan r (imbalan instan) yang lebih tinggi dan cepat (tawa, kejutan) meskipun Ɣ (nilai masa depan) hampir nol. Sebaliknya konten yang “lebih berbobot” (berbasis edukasi, riset, analisis kritis) memberikan r yang lebih rendah dan membutuhkan usaha berpikir, meskipun nilai masa depan lebih tinggi.

 

Walau rumus di atas boleh jadi adalah penyederhanaan berlebih atau simplifikasi (karena masih mungkin konten yang lebih berbobot mengambil wajah yang “lebih receh”), namun hal ini kiranya cukup menjelaskan mengapa mindless/dumb scrolling akan terus terjadi secara alamiah apabila kondisi di atas tidak segera dibalik.

 

Bagaimana membaliknya? Ada dua jalur. Pertama, jalur pengguna. Kedua, jalur lembaga/institusi.

 

Jalur Pengguna: Strategi Metakognisi

 

Sebuah ungkapan kritis menyatakan bahwa jika kita sebagai pengguna tak pernah mencari materi bermutu, maka konten bermutu tidak akan “datang” kepada kita karena algoritma media sosial tidak akan menyajikannya berdasarkan histori browsing dan scrolling kita. Dengan kalimat lain, teknologi yang seharusnya membantu kita justru mengurung kita dalam gelembung selera yang dangkal.

 

Guna memutus mata rantai ini, kita membutuhkan strategi metakognisi. Yang dimaksud adalah kemampuan kita untuk terus-menerus memantau dan memikirkan/merefleksikan cara kita sendiri dalam berpikir. Bagaimana tekniknya?

 

Pertama, melatih ulang algoritma. Kita perlu menjadi sadar - sesadar-sadarnya - bahwa hal-hal yang muncul di hadapan kita di media sosial tidak lain merupakan cermin dari konsumsi digital kita di masa-masa sebelumnya. Nah, mari kita kirimkan “sinyal baru” kepada mesin media sosial.

 

Lakukan pencarian aktif (active searching) dengan menggunakan kata kunci bermutu. Beberapa kata kunci jangkar (anchor keywords) yang dapat digunakan ketika memasukkan kata kunci ke kotak pencarian di media sosial, misalnya: “prinsip” (contoh: “prinsip bermaaf-maafan”), “kerangka kerja....”,  “sejarah....”, “sains/riset di balik....”, “studi kasus”, “analisis kontekstual....”, ”praktik baik”, hingga “panduan praktis”. Kita siapkan juga otak kita bukan sekadar “menonton” melainkan juga “belajar”.

 

Biarkan algoritma membaca bahwa durasi tonton Anda meningkat pada konten-konten tersebut, niscaya secara perlahan konsumsi digital Anda akan menjadi lebih bergizi. Hal ini karena algoritma biasanya akan menjaga momentum reading/watching kita, sehingga yang akan disajikan adalah konten yang “lebih berbobot” dengan kemasan yang lebih ringan.


Photo by Wiki Sinaloa on Unsplash 


Kedua, bertanya pada diri (self-questioning). Sebelum menekan tombol bookmark/simpan, tanyakan kepada diri, “Apakah saya mem-bookmark ini karena benar-benar akan saya pelajari, atau saya hanya takut merasa ketinggalan?”.


Jika jawabnya yang pertama, lakukan tindakan bookmarking untuk mengirimkan sinyal penguat (reinforcement signals) kepada algoritma sehigga media sosial akan menyajikan konten-konten berikutnya yang memberikan nutrisi kognitif.

 

Ketiga, pembersihan (digital decluttering) berkala. Menghapus simpanan yang tidak lagi relevan bukan sekadar merapikan isi smartphone kita. Riset menunjukkan bahwa menumpuk data yang tidak terolah meningkatkan kecemasan dan menghambat kreativitas.

 

Jalur Lembaga: Insentif dan Regulasi

 

Di samping dari jalur pengguna, jalur platform teknologi juga tak kalah penting. Platform masa depan harus dirancang dengan sengaja bukan untuk “mencuri waktu” melainkan guna “menumbuhkan/manusiakan diri (pemahaman, emosi, tindakan)”. Untuk itu, kita menuntut peran lembaga Pemerintah dan perusahaan teknologi.

 

Pemerintah Indonesia harus hadir untuk menyeimbangkan ekosistem digital melalui kolaborasi dua kementerian/lembaga utama.

 

Pertama, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Kementerian Keuangan, Pemerintah perlu memberikan insentif pajak (tax rebate) bagi perusahaan teknologi yang bersedia memodifikasikan algoritmanya untuk mengedepankan konten yang lebih berbobot.

 

Perusahaan yang mampu membuktikan bahwa algoritma mereka mendorong “durasi tontonan berkualitas, memberdayakan” daripada sekadar hiburan harus mendapatkan keringanan fiskal.


Untuk mencegah hegemoni tafsiran penguasa, kita perlu menuntut juga demokratisasi teknologi. Misalnya, menuntut transparansi algoritma secara total atau mendorong porsi kepemilikan masyarakat atau koperasi (yang tidak pertama-tama mengejar profit) terhadap perusahaan teknologi, sehingga sedikit mengurangi kepentingan untuk menahan pengguna selama mungkin di depan layar.

 

Kedua, melalui Kemendikdasmen dan Kemendiktisaintek / BRIN / BPS, Pemerintah perlu melakukan survei skala besar untuk menghitung kerugian produktivitas nasional akibat kelelahan mental dari perilaku mindless/dumb scrolling serta beban emosonal akibat penimbunan informasi (digital hoarding). Kerugian ini harus ditransformasi “energi”-nya untuk keuntungan nasional, dengan cara perbaikan “tata kelola perhatian” (digital attention governance).

 

Konsumen media sosial dapat diajak melalui berbagai kampanye dan program untuk membangun “arsitektur makna” mereka sendiri melalui anotasi/catatan atas bookmarks/simpanan konten mereka yang berisi rencana aksi nyata (“Mau apa dengan bookmarks ini? Seharusnya saya bisa bertindak sesuatu atas bookmarks yang saya kumpulkan sendiri ini, demi masa depan saya!”).

 

Bagaimana dengan peran perusahaan teknologi (Meta, TikTok, dan sejenisnya)? Perusahaan teknologi harus memiliki tanggung jawab moral untuk beralih dari sekadar mengejar durasi tonton ke arah pemberdayaan pengguna.

 

Memang perlu diakui bahwa sangat menantang untuk mendefinisikan apa itu “konten/tontonan yang berkualitas, memberdayakan”. Konten yang tampak “receh” dan dangkal sekalipun (misal: komedi situasi / sitcomm tertentu) dapat dikaim sebagai “berkualitas, memberdayakan” (misal: saranan katarisis atau pelepasan memosi) oleh seseorang atau sekelompok orang (misal: yang sedang mengalami tekanan psikis yang berat). Batasannya memang bisa sangat cair.

 

Kendati begitu, ada sejumlah indikator yang dapat dijadikan “rubrik pemberdayaan” oleh perusahaan teknologi. Setidaknya ada tiga pilar rubrik yang dapat digunakan, yakni (1) kognitif, (2) psikososial, dan (3) etika.



Pilar kognitif menjawab pertanyaan berikut: Apakah konten mampu menjelaskan secara sederhana tanpa menghilangkan substansi atau kebenaran ilmiahnya? Apakah konten memancing pertanyaan “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” - bukan hanya ajaran mutlak/doktrin? Apakah ada nilai informasi yang bisa diterapkan atau dijadikan referensi dalam kehidupan nyata?

 

Pilar psikososial menjawab pertanyaan berikut: Apakah penonton merasa "saya juga bisa" atau "saya mengerti sekarang" setelah menonton? Apakah konten membangun jembatan pemahaman terhadap kondisi orang lain yang berbeda latar belakang? Jika tontonannya bersifat hiburan/receh, apakah memberikan pelepasan emosi yang menyegarkan (refreshing) tanpa meninggalkan rasa hampa atau ketergantungan yang menghancurkan jiwa maupun badan? 

 

Pilar etika terjelma ketika konten tidak menggunakan penderitaan, kemiskinan, atau kekurangan orang lain sebagai komoditas utama hiburan (misalnya: “poverty porn”). Pertanyaan terkait: Apakah konten memperlakukan subjeknya sebagai manusia yang utuh, bukan sekadar objek/properti? Meskipun fiksi atau hiburan, apakah logika yang dibangun tidak menyesatkan secara berbahaya (misalnya: glorifikasi kekerasan atau misinformasi medis)? Kecerdasan artifisial (AI) yang mampu otomatis menganalisis dan bertindak (agentik) atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat berpotensi untuk dibenamkan di platform media sosial.

 

Catatannya adalah bahwa seringkali titik batasnya bukan pada apa, melainkan pada bagaimana konten itu dikonsumsi. Menonton sinetron sebagai studi sosiologi perilaku masyarakat bisa menjadi kegiatan yang sangat berkualitas dan memberdayakan secara intelektual. Menonton dokumenter sains tapi sambil mindless scrolling dan tidak ada informasi yang terserap hanyalah bentuk distraksi lain.

 

Untuk hal itu, perusahaan teknologi dapat membantu secara serius dengan mengentalkan aspek pendidikan sebagai pendamping/fasilitator konten dalam hal ini. Beberapa model pengembangan aplikasi bisa diterapkan.

 

Saat membuka aplikasi, muncukanlah pop-up kecil, "Mau nonton untuk belajar, cari inspirasi, atau sekadar istirahat?" Jika pengguna memilih "belajar", algoritma akan memberikan notifikasi pengingat jika mereka mulai melenceng ke konten yang murni pengalih perhatian. Ini memperkuat agensi (kendali diri) pengguna.

 

Perusahaan teknologi bisa menyisipkan lapisan informasi (overlay) yang bisa diaktifkan atau dinonaktifkan. Contoh: Jika sistem mendeteksi pengguna menonton drama/sinetron selama 15 menit, AI dapat mengirimkan notifikasi kecil (non-intrusif) di pojok layar, "Tokoh ini sedang menunjukkan pola komunikasi pasif-agresif. Ingin tahu cara menghadapinya?" 


Jika algoritma mendeteksi kecepatan gulir (scrolling) yang terlalu tinggi (indikasi mindless), sistem secara otomatis memperlambat transisi antar video dan memunculkan satu pertanyaan reflektif singkat tentang video sebelumnya.

 

Sistem juga bisa mengirimkan dorongan refleksi setelah durasi tontonan tertentu. Contoh: Setelah pengguna menonton konten hiburan selama 30 menit, muncul notifikasi lembut: "Tadi ada bagian yang paling relate dengan hidupmu tidak? Simpan (Bookmark) momen itu di sini."

 

Integrasi AI dalam alat manajemen Bookmark diharapkan dapat membantu pengguna secara otomatis mengurai konten yang disimpan menjadi jadwal eksekusi yang nyata, sehingga mengubah bookmark dari "kuburan digital" menjadi "mitra produktivitas.


Setiap konten yang disimpan harus diikuti dengan satu aksi kecil dalam dunia nyata dalam waktu 24 jam. Contoh: Menyimpan video olahraga harus diikuti dengan peregangan minimal 5 menit.

 

Tantangannya adalah bagaimana perusahaan teknologi tidak terlihat mengatur hidup orang (patronisme digital). Kuncinya adalah pemberian pilihan (choice architecture). Notifikasi tersebut sebaiknya tidak bersifat instruktif ("Kamu harus belajar!"), melainkan bersifat menawarkan perspektif ("Ingin lihat sisi lain dari video ini?").


 Photo by Erol Ahmed on Unsplash


 

Kurasi sebagai Perlawanan

 

Wabah scrolling yang seolah tanpa ujung ini memang mengkhawatirkan, namun kita tidak boleh berputus asa. Manusia pada dasarnya adalah makhluk pencari makna. Dengan beralih dari sekadar "penggulir" (scroller) menjadi "kurator" melalui bookmark, kita merebut kembali penguasaan atas pikiran kita sendiri.


Dunia digital tidak harus membuat kita bodoh melainkan bisa menjadi bait ilmu pengetahuan yang perkasa jika kita tahu cara memegang kendali atas jempol kita sendiri. Mari kita jadikan kurasi sebagai keterampilan dasar bangsa agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen tayangan, tetapi menjadi arsitek masa depannya sendiri.


Di sinilah peran strategi penandaan atau bookmarks bertransformasi dari sekadar fitur teknis menjadi instrumen perlawanan terhadap kedangkalan. Alih-alih membiarkan konten lewat begitu saja dalam arus linimasa yang menderu, kita perlu membiasakan diri untuk berhenti sejenak dan melakukan kurasi aktif.


Faktanya, pasar layanan bookmark daring (online bookmark services) mencerminkan tumbuhnya kesadaran masyarakat global pada alat manajemen konten. Berdasarkan data tahun 2025 dari Global Growth Insights, https://www.globalgrowthinsights.com/market-reports/online-bookmark-services-market-118104?hl=en-US, ukuran pasar layanan bookmark daring bernilai sebesar hampir 33,88 triliun rupiah dan diproyeksikan lebih dari dua kali lipat, menjadi 73,71 triliun rupiah pada tahun 2035.


Tabel 1 menunjukkan data demografi platform media sosial dan perilaku bookmark daring yang dirangkum dari berbagai sumber (Sprout Social, 2026; Pew Research Center, 2025; SMI Barometer, 2024, 2025).


Data sebesar itu tidak mengherankan karena psikologi pengguna ingin memproyeksikan diri yang dicita-citakan (ideal self) mereka melalui konten yang disimpan. Sebagai contoh, menyimpan (mem-bookmark) video tutorial kebugaran berfungsi sebagai proxy psikologis untuk harapan menjadi bugar, meskipun video tersebut mungkin tidak pernah ditonton kembali.


Tabel 1. Data pengguna bookmark daring lintas platform (2024-2026)

Platform

Segmen Usia Terbesar (Monthly Active Users)

Persentase (%)

Karakteristik Bookmark Daring

Instagram

18 - 24 Tahun

32%

Estetika visual, inspirasi gaya hidup, belanja, dan penyimpanan konten Reels untuk referensi kreatif.

TikTok

25 - 34 Tahun

40,3%

Tutorial praktis, hiburan, penemuan produk baru, dan penyimpanan tren viral.

Pinterest

25 - 34 Tahun

35,6%

Perencanaan proyek jangka panjang, DIY (do it yourself), desain interior, dan koleksi aspirasi.

X (Twitter)

25 - 34 Tahun

37,5%

Berita terkini, politik, diskusi publik, referensi profesional, dan arsip privat melalui “like diam-diam”.

Facebook

25 - 34 Tahun

31,0%

Koneksi komunitas lokal, Marketplace, pengorganisasian acara, dan interaksi keluarga.

 

Dengan menyimpan sebuah tontonan ke dalam kategori spesifik - misalnya "Penjelasan Perilaku", "Inspirasi Komunikasi", atau "Solusi Kreatif" - kita sebenarnya sedang melakukan intervensi kognitif yang mengubah sebuah hiburan "receh" menjadi objek studi yang bermakna. Bookmarks bukan lagi sekadar tempat penyimpanan yang pasif, melainkan sebuah perpustakaan personal yang mencerminkan kedalaman minat dan arah intelektual kita.


Lebih jauh lagi, penguatan strategi bookmarks yang didukung oleh intervensi teknologi (seperti notifikasi reflektif) akan menciptakan ekosistem konsumsi yang memberdayakan. Bayangkan jika setiap kali kita menandai sebuah konten, sistem mengajak kita menuliskan satu kalimat mengapa konten tersebut layak disimpan.


Praktik sederhana ini efektif memutus rantai mindless scrolling dan memaksa otak untuk melakukan sintesis informasi secara instan.




Pakta Batas Suci


Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa kurasi melalui bookmark hanyalah inisiatif paling dini untuk mengelola isi pikiran. Bookmark tidak dapat secara total menghentikan gerusan waktu berinteraksi yang berharga dengan keluarga atau significant others akibat screentime yang kita habiskan.


Strategi metakognitif lainnya berperan sebagai “rem darurat” melalui pemantauan diri secara sadar (self-monitoring). Kita perlu bertanya pada diri sendiri di tengah keriuhan scrolling, “Apakah interaksi digital ini memberikan nilai yang lebih besar daripada kehadiran fisik saya untuk orang-orang tercinta saat ini?”.


Kesadaran ini membantu kita mengenali momen-momen ketika teknologi tidak lagi menjadi alat pencari makna, melainkan perlahan mulai bergeser menjadi alat pelarian emosional yang semakin mengasingkan kita dari peristiwa-peristiwa sosial sehari-hari yang paling berharga.


Untuk benar-benar berhenti, kita harus disiplin melatih ulang otak kita agar tidak terjebak dalam siklus imbalan instan yang manipulatif. Strategi metakognitif yang efektif adalah dengan menetapkan “batas suci” di rumah (misalnya meja makan atau kamar tidur sebagai zona bebas gawai) dan secara sadar mengakui rasa bersalah atau kecemasan yang muncul saat kita mencoba melepaskan gawai.


Dengan mengenali pola emosi tersebut, kita bisa mengurangi nilai kepuasan semu dari scrolling ngalor ngidul sekaligus menaikkan nilai imbalan (r) dari interaksi tatap muka dengan keluarga sebagai investasi kebahagiaan jangka panjang.



Pakta integritas keluarga dapat disepakati dan ditegakkan bersama, misalnya: (1) Kami berjanji untuk tidak menggunakan gawai di meja makan dan di dalam kamar tidur setelah pukul 21:00; (2) Saat ada anggota keluarga yang mengajak bicara, kami akan meletakkan gawai dan memberikan perhatian penuh; (3) Kami akan saling mengingatkan untuk membagikan satu hal bermakna yang kami pelajari minggu ini melalui bookmarks (namun pada saat berbagi, tidak perlu melibatkan gawai); (4) Sebelum membuka aplikasi media sosial, kami akan bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya mencari sesuatu yang penting, atau hanya sedang melarikan diri dari sesuatu?”.


Akhirnya, kedaulatan digital sejati tidak tercapai hanya dengan menumpuk konten bermutu, melainkan saat kita berani mematikan layar dan merebut kembali waktu dan makna hidup kita. Negara dan berbagai institusi terkait wajib hadir untuk memutus mata rantai keterasingan manusia dari lingkungannya sendiri, agar kita tidak selamanya menjadi budak dari mesin dan algoritma yang seolah-olah kita butuhkan - seperti dengan scrolling ngalor ngidul.


Mari kita tempatkan teknologi sebagai alat yang melayani kemanusiaan kita, bukan sebagai penjajah digital yang mendikte kapan kita harus terjaga dan kapan kita boleh bicara dengan orang-orang tercinta.


Republished from Tempo.

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post

©2026 by Juneman Abraham - Social psychologist. Proudly created with Wix.com

bottom of page